Turnover karyawan adalah salah satu tantangan terbesar dalam manajemen SDM. Setiap kali karyawan resign, perusahaan tidak hanya kehilangan seorang individu, tetapi juga pengetahuan, produktivitas, waktu, biaya rekrutmen, dan stabilitas tim. Bahkan menurut berbagai studi HR global, biaya penggantian satu karyawan dapat mencapai 30%–200% dari total gaji tahunannya, tergantung level posisi.
Karena itu, sangat penting bagi HR dan manajemen untuk benar-benar memahami mengapa karyawan memutuskan resign. Dengan mengetahui penyebabnya secara mendalam, perusahaan dapat mengambil langkah preventif, memperbaiki manajemen, meningkatkan retensi, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.
Berikut adalah 10 penyebab karyawan resign paling umum di perusahaan Indonesia, dijelaskan secara mendalam dan disertai contoh kasus nyata di lapangan.
1. Gaji Tidak Kompetitif & Minim Benefit
Gaji adalah salah satu faktor paling sensitif dalam hubungan perusahaan dan karyawan. Ketika karyawan merasa bahwa kompensasi yang diterima tidak sebanding dengan beban kerja, tingkat kesulitan pekerjaan, atau standar gaji di industri, mereka mulai mencari peluang lain.
Masalahnya bukan hanya jumlah gaji, tetapi juga kurangnya struktur yang adil dan transparan. Misalnya, perusahaan tidak memiliki salary band, penyesuaian gaji jarang diberikan, atau hanya diberikan berdasarkan negosiasi, bukan pada hasil kinerja yang terukur. Karyawan yang merasa gajinya stagnan akan merasa kontribusinya tidak dihargai.
Selain itu, benefit juga kini menjadi pertimbangan besar. Karyawan berharap mendapatkan:
BPJS Kesehatan & Ketenagakerjaan
Tunjangan transport
Tunjangan makan
Bonus kinerja yang realistis
Asuransi kesehatan untuk keluarga
Fasilitas kerja yang mendukung
Ketika benefit tidak memadai, karyawan merasa perusahaan tidak peduli dengan kesejahteraan mereka.
Contoh kasus:
Seorang digital marketer yang berhasil meningkatkan traffic 5x lipat dalam setahun tetap menerima gaji yang sama, tanpa bonus, tanpa penyesuaian. Ia pun pindah ke kompetitor yang memberi gaji 30% lebih tinggi + tunjangan.
Kesimpulan: karyawan tidak resign karena gaji kecil, tetapi karena gaji dan benefit tidak sebanding dengan kontribusi.
2. Tidak Ada Pengembangan Karier atau Jalur Promosi
Salah satu alasan resign terbesar adalah ketika karyawan merasa masa depan mereka buntu. Mereka tidak melihat peluang untuk naik jabatan, belajar skill baru, atau mendapatkan lebih banyak tanggung jawab.
Bahkan karyawan yang menyukai pekerjaannya pun dapat memilih resign jika mereka merasa kariernya tidak berkembang.
Beberapa masalah umum:
Tidak ada career path yang jelas
Promosi hanya berdasarkan kedekatan dengan pimpinan
Pelatihan atau sertifikasi tidak pernah disediakan
Karyawan berprestasi tetap berada pada posisi yang sama bertahun-tahun
Perusahaan selalu merekrut pimpinan dari luar, bukan internal
Karyawan generasi sekarang (Millennial dan Gen Z) sangat mendambakan peningkatan skill dan jenjang karier. Tanpa itu, mereka merasa perusahaan tidak memberi nilai tambah untuk masa depan.
Baca Juga: Cara dan Tips untuk Merekrut Gen Z
Contoh kasus:
Seorang staf finance yang sudah bekerja 3 tahun dengan performa baik, tetapi selalu kalah promosi dari kandidat eksternal. Ia merasa tidak dihargai dan akhirnya pindah ke perusahaan yang menawarkan posisi senior.
Akar masalah: kurangnya struktur pengembangan SDM di perusahaan.
3. Lingkungan Kerja Tidak Kondusif (Toxic Culture)
Lingkungan kerja toxic adalah penyebab resign paling cepat dan paling fatal. Tidak peduli seberapa besar gaji yang ditawarkan, karyawan akan meninggalkan perusahaan jika lingkungan kerjanya membuat stres secara mental maupun fisik.
Karakteristik lingkungan toxic meliputi:
Atasan atau rekan kerja sering marah tanpa alasan
Budaya gosip dan politik kantor
Tidak ada kolaborasi antar tim
Tidak ada budaya saling menghargai
Jam kerja panjang tetapi tidak ada kompensasi
Beban kerja tidak merata
Lingkungan toxic membuat karyawan merasa tertekan setiap hari. Tekanan mental seperti ini tidak bisa dipertahankan dalam jangka panjang sehingga resign menjadi pilihan paling rasional.
Contoh kasus:
Seorang customer service resign karena setiap hari menerima pesan kerja dari atasannya hingga tengah malam. Tidak ada boundaries antara waktu kerja dan pribadi.
Intinya: toxic culture adalah racun paling cepat memicu turnover.
4. Hubungan Buruk dengan Atasan
Ada pepatah HR yang sangat terkenal:
“People don’t leave jobs, they leave managers.”
Gaya kepemimpinan sangat berpengaruh terhadap kenyamanan dan produktivitas karyawan. Atasan yang tidak kompeten dalam memimpin dapat membuat karyawan merasa tidak dihargai, tidak didengar, atau tidak dipercaya.
Gaya manajemen yang memicu resign:
Micro-managing berlebihan
Atasan tidak memberikan arahan kerja yang jelas
Tidak pernah memberi feedback positif
Mengambil kredit dari kerja tim
Tidak adil dalam pembagian workload
Tidak mau mendengarkan pendapat bawahan
Contoh kasus:
Karyawan resign karena setiap tugasnya dikritik, tetapi tidak pernah diberi arahan perbaikan. Bahkan ide bagusnya selalu ditolak tanpa penjelasan.
Kesimpulan: atasan yang buruk membuat karyawan terbaik pun resign.
5. Beban Kerja Berlebihan & Burnout
Burnout kini menjadi salah satu penyebab resign paling umum, terutama di era digital dengan tuntutan kerja sangat tinggi.
Situasi yang memicu burnout:
Lembur terus menerus
Jam kerja tidak jelas
Target tidak realistis
Kekurangan tenaga kerja tetapi tuntutan tetap tinggi
Banyaknya pekerjaan administratif manual
Tidak ada dukungan tools rekrutmen, CRM, atau sistem HR
Burnout bukan hanya membuat karyawan resign, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental dan fisik mereka.
Contoh kasus:
Tim sales harus menyelesaikan reporting manual setiap malam setelah pulang meeting. Beban kerja tidak seimbang dan akhirnya banyak resign dalam periode singkat.
Masalah utama: perusahaan tidak melakukan workforce planning yang baik.
6. Job Description Tidak Jelas (Mismatch)
Salah satu penyebab resign paling awal (3–6 bulan pertama) adalah ketika pekerjaan sebenarnya berbeda dengan apa yang dijelaskan pada saat proses rekrutmen.
Kasus yang sering terjadi:
Staf admin ternyata merangkap HR, purchasing, dan finance
Staff marketing ternyata harus handle customer service
Posisi social media tetapi dikerjakan seperti content creator + designer + editor
Ketidakjelasan jobdesc membuat karyawan merasa dibohongi dan tidak memiliki arah yang jelas dalam bekerja.
Contoh kasus:
Seorang fresh graduate yang di-hire sebagai “business development” ternyata harus bekerja layaknya telemarketing full-time.
Alhasil, mereka resign karena merasa pekerjaannya tidak sesuai harapan dan tidak sesuai passion atau skill.
7. Kurangnya Work-Life Balance
Trend HR saat ini: Generasi modern tidak ingin hidup untuk bekerja.
Mereka menginginkan keseimbangan, terutama setelah pandemi mengubah cara berpikir tentang kesehatan mental dan waktu pribadi.
Penyebab umum:
Lembur tanpa kompensasi
Selalu standby 24/7
Shift yang tidak manusiawi
Kurangnya rotasi kerja
Jam kerja yang tidak fleksibel
Tidak ada kebijakan WFH atau hybrid
Karyawan yang tidak memiliki waktu cukup untuk keluarga, kesehatan, atau pertemanan akhirnya memilih resign meskipun menyukai pekerjaannya.
Contoh kasus:
Karyawan shift malam yang selalu kebagian jadwal tanpa rotasi yang jelas akhirnya mengalami masalah kesehatan dan memutuskan keluar.
8. Perusahaan Tidak Stabil atau Tidak Punya Arah Jelas
Stabilitas perusahaan sangat memengaruhi keputusan bekerja jangka panjang. Ketidakjelasan arah perusahaan sering membuat karyawan merasa masa depannya tidak aman.
Tanda-tanda perusahaan tidak stabil:
PHK besar-besaran
Target berubah setiap minggu
Perusahaan kehilangan banyak klien
Struktur organisasi sering berubah
Keuangan tidak transparan
Performa bisnis turun
Karyawan yang merasa masa depannya tidak aman akan mencari tempat yang lebih stabil.
Contoh kasus:
Setelah perusahaan melakukan pengurangan karyawan besar-besaran, karyawan yang tersisa pun merasa sewaktu-waktu akan terkena gelombang berikutnya dan memilih resign lebih dulu.
9. Budaya Perusahaan Tidak Sejalan dengan Nilai Pribadi
Setiap karyawan memiliki nilai hidup yang berbeda. Ketika nilai perusahaan bertentangan dengan prinsip pribadi, karyawan tidak akan bertahan lama.
Contoh konflik nilai:
Perusahaan terlalu agresif dalam bisnis, sementara karyawan ingin keseimbangan
Perusahaan menuntut lembur setiap hari
Perusahaan tidak menghargai keberagaman atau inklusivitas
Budaya perusahaan tidak jujur atau tidak etis
Contoh kasus:
Karyawan resign karena perusahaan menuntut target dengan cara yang tidak jujur atau memanipulasi pelanggan.
10. Tawaran Lebih Menarik dari Perusahaan Lain
Alasan paling klasik: perusahaan lain menawarkan lebih baik.
Bisa berupa:
Di era digital dimana aplikasi job portal sangat mudah digunakan, karyawan mendapatkan banyak peluang kerja baru setiap hari.
Contoh kasus:
Karyawan resign karena kompetitor menawarkan gaji 40% lebih tinggi + kesempatan memimpin tim.
Kesimpulan
Karyawan tidak resign tanpa alasan. Semua penyebab di atas dapat menjadi alarm bagi perusahaan untuk memperbaiki sistem kerja, manajemen, dan budaya organisasi.
Perusahaan yang mampu memahami penyebab resign akan:
memiliki retensi lebih tinggi,
mengurangi biaya rekrutmen dan onboarding,
menciptakan tim yang lebih stabil,
dan meningkatkan produktivitas jangka panjang.